Bagaimana Menentukan Arah Kiblat Menggunakan Matahari

Tema kultum tarawih di mesjid Al Manar Jatirejo malam ini cukup menarik, tentang bagaimana menentukan arah kiblat menggunakan matahari. Khatib menyinggung mengenai fakta arah kiblat yang tidak tepat di sejumlah mesjid. Padahal dalam melakukan shalat harus menghadap arah yang tepat, yaitu kiblat. Allah Swt berfirman, yang artinya : “Dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya” (QS. al-Baqarah: 150).

Tahun 2010 MUI pernah mengeluarkan fatwa bahwa arah kiblat itu barat. Oleh karena itu pembangunan masjid-masjid pun kala itu (dan mungkin tahun-tahun sebelumnya) menentukan kiblatnya ke arah barat.

Bagaimana Menetukan Arah Kiblat Menggunakan Matahari

Beberapa waktu kemudian fatwa itu dikoreksi menjadi barat laut, atau barat dengan kemiringan beberapa derajat ke utara. Mengenai berapa derajat kemiringan/bergeser ke utara tergantung letak daerah masing-masing. Satu kawasan di Pulau Jawa berbeda dibandingkan dengan kawasan lain di Kalimantan atau Sulawesi yang letaknya lebih ke utara. Dengan perbaikan arah kiblat itu diharapkan akan menghadap ke Ka’bah, yang terletak di Masjid Al-Haram, Makkah. Persoalan arah kiblat ini menjadi hal yang krusial sebab menghadap kiblat merupakan salah satu syarat salat. Dan kiblat itu adalah Ka’bah di Mekkah.

Istiwa A’zham – Saat Matahari di Atas Ka’bah

Tapi tahukah anda, jika kita hidup di Indonesia dan sekitarnya, seriap pergeseran 1 derajat, bisa melencengkan arah sejauh 100 Km dari titik Ka’bah? Menurut Khatib, ada cara sederhana yang merupakan pengetahuan yang sudah sangat tua, tetapi yang tidak banyak orang yang tahu mengenai cara ini. Yaitu dengan berbekal sinar matahari. Cara ini bahkan bisa lebih teliti dibandingkan menggunakan kompas, yang mudah terpengaruh terhadap medan magnet di sekitarnya. Metode ini menggunakan yang disebut sebagai peristiwa Istiwa A’zham (Persinggahan Utama) atau disebut juga Rashdul Qiblah.  Dalam satu tahun masehi, matahari 2 kali singgah berada tepat di atas Ka’bah. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 28 Mei pukul 16:18 WIB dan 16 Juli pukul 16:27 WIB. Artinya, semua orang yang bisa melihat matahari pada saat itu dan menghadapkan wajahnya ke sana telah menghadapkan wajahnya ke kiblat. Kita bisa menancapkan sebuah tongkat yang diberi benang dengan bandul, di bawah sinar matahari pada waktu tsb, dan melihat bayangannya. Kemana arah bayangan tersebut, itulah arah kiblat yang tepat, karena pada saat itu matahari tepat berada di atas Ka’bah.

Lalu bagaimana dengan Indonesia bagian timur yang pada waktu Istiwa’ A’zham sudah masuk malam hari? Untuk ini terdapat 2 hari lain di mana matahari tepat di balik Ka’bah (antipoda), bayangan matahari pada waktu tersebut benar-benar mengarah ke Ka’bah. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 28 November 04:09 WIB atau 06:09 WIT dan 16 Januari jam 04:29 WIB atau 06:29 WIT. 

Bagaimana Menetukan Arah Kiblat Menggunakan Matahari

Dalam melakukan pengukuran pada saat Istiwa A’zham ini, waktu yang tersedia hanya 1-2 menit saja. Oleh karena itu, sebelumnya agar disiapkan arloji yang sudah terkalibrasi, dan alat-alat lain yang diperlukan agar tidak terburu-buru.

Mudah-mudahan dengan pengetahuan ini dapat menjadi panduan kita dalam memverifikasi dan memperbaiki arah kiblat dalam shalat. Jika sebelumnya belum tahu tentu tidak mengapa, tidak menjadikan tidak sah nya sholat kita. Karena barangsiapa berusaha mencari arah kiblat lalu ia shalat menghadap ke arah yang disangka olehnya sebagai arah kiblat, namun ternyata salah, maka dia tidak wajib mengulang. Dari ‘Amir bin Rabi’ah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan di suatu malam yang gelap dan kami tidak mengetahui arah kiblat. Lalu tiap-tiap orang dari kami shalat menurut arahnya masing-masing. Ketika tiba waktu pagi, kami ceritakan hal itu pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu turunlah ayat:

فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ

“… maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah…” [Al-Baqarah: 115].”[15]

Tetapi setelah adanya pengetahuan mengenai hal ini tentu menjadi kewajiban kita untuk memperbaikinya. Wallahu a’lam

Tonton video -> Doa Buka Puasa

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: