Hikmah Kejatuhan Bisnis Sevel di Indonesia

Hikmah Kejatuhan Bisnis Sevel di Indonesia. Bisnis 7-Eleven atau lebih dikenal dengan Sevel masuk ke Indonesia sekitar tahun 2008 silam. Sempat menghebohkan pasar Indonesia di awal kehadiran dengan mengusung konsep jualan waralabanya, baru-baru ini kita dikejutkan dengan kabar bangkrutnya Sevel karena menelan kerugian beruntun dalam 2 tahun terakhir. Pada tahun 2011 terdapat 50 gerai Sevel yang meningkat menjadi 2 kali lipatnya setahun kemudian. Pada tahun 2014 sudah ada 190 gerai Sevel di Jakarta dan sekitarnya. Mengusung konsep waralaba premium, Sevel hadir berbeda dibanding dengan Alfamart, Circle-K ataupun Indomaret, dimana Sevel tidak hanya menjual produk consumer goods, tetapi juga menyediakan makanan dan minuman layaknya kafe dan tempat untuk bersantai dengan meja kursi serta dilengkapi dengan fasilitas wifi yang memanjakan pelanggannya.

Ketika Modern Group sebagai induk perusahaan ini mengumumkan kerugian yang mencapai 400 Miliar tahun ini dan menutup semua gerainya, publik terhenyak.

Hikmah Kejatuhan Bisnis Sevel di Indonesia

Gerai Sevel

Brutal Fact

Kisah kejatuhan Sevel ini memberikan pelajaran akan pentingnya inovasi yang tepat sasaran. Pelajaran kedua, ketika sudah menguasai pasar, suatu entitas bisnis harus terus berkembang atau growth agar tidak kehilangan momentum dalam menghadapi kompetitornya. Ingat pelajaran dalam kasus yang terjadi pada Nokia atau Sony? Disaat sepertinya tidak ada lagi yang bisa menyaingi marketshare mereka, membuat Nokia dan Sony terlena dan melambat dalam melakukan inovasi-inovasi yang tepat untuk mengembangkan market nya. Siapa yang menyangka Nokia, Kodak atau Blackberry yang dulu begitu digdaya bisa dilibas oleh teknologi pesaingnya, dan bahkan sekarang muncul kekuatan baru seperti Xiaomi atau Huawei yang dulunya dilirik sebelah mata? Disaat kompetitornya terus berkembang, Sevel tidak menawarkan suatu strategi yang baru sejak kehadirannya di Indonesia. Meminjam istilah Clayton M. Christensen, Sevel menjadi korban Innovator’s Dilemma (jebakan inovasi) seperti halnya Nokia dan Blackberry; terlalu asyik dan cinta dengan produknya sendiri, sehingga kurang sensitif terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di sekelilingnya.

Sevel menerapkan konsep lokasi / pemilihan tempat yang premium which is high cost, dan juga menjual produk-produk seperti menu resto; ayam goreng, nasi goreng instan, spaghetti, salad dll yang harganya cukup mahal. Celakanya, menjual produk-produk makanan seperti itu, akan menjadi high cost ketika tidak laku terjual, karena harus dibuang.  Lebih parahnya lagi, banyak pelanggan Sevel hanya dari anak-anak muda yang memanfaatkan tempatnya untuk sekedar nongkrong dan membeli produk consumer goods seperti minuman ala kadarnya saja. Dan mereka tahan untuk nongkrong selama ber jam-jam di gerai Sevel. Akibatnya, cost menjadi besar, pemasukan sedikit. Ujung-ujungnya menjadi collapse.

Harapan akan pembeli yang akan menyerap produk-produk premium ala resto hanya tinggal harapan, karena marketnya kecil. Pembeli lebih memilih ke Starbucks jika sanggup membayar lebih mahal, dengan image, tempat dan layanan yang dirasa jauh lebih premium ketimbang makan di Sevel. Produk strategy yang tidak fokus ini menjadi bumerang. Maksud hati ingin menghadirkan layanan yang premium seperti Starbucks tidak bisa, mau menggunakan konsep minimarket yang efisien seperti Alfamart atau Indomaret juga tidak bisa, karena sudah terlanjur terkesan premium (mahal) produknya. Serba tanggung.

Hikmah Kejatuhan Bisnis Sevel di Indonesia

Disruptive Change

Kondisi semakin buruk akibat regulasi pemerintah, salah satunya larangan penjualan alkohol di minimarket. Tertulis dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 06/M-DAG/PER/1/2015 tentang Pengendalian dan Pengawasan terhadap Pengadaan, Peredaran, dan Penjualan Minol.
Pada sisi lain, ekonomi juga tengah dalam perlambatan. Sehingga kemampuan masyarakat untuk belanja juga berkurang. Kondisi ini yang memunculkan ungkapan banyak orang nongkrong di sevel tapi enggak jajan. Ujungnya, 30 gerai sevel ditutup April lalu.
Dari sisi ekspansi bisnis pun, Sevel tidak mau bermain ke luar Jabotabek, which is dilakukan oleh pesaingnya seperti Indomaret dan Alfamart. Konsep gerai di lokasi strategis yang ditiru pesaingnya ini, ditambah dengan ekspansi yang cukup masif karena berani bermain sampai ke daerah-daerah di luar Jakarta. Ini yang tidak berani dilakukan oleh Sevel.

Rencana akuisisi oleh grup Charoen Pokphand pun gagal karena ketidaksepakatan bisnis. Kabarnya pemilik Sevel di luar negeri tidak setuju dengan rencana bisnis yang diajukan Charoen.

 

Lesson Learned

Mungkin dalam case ini bisa diambil kesimpulan bahwa inovasi memang penting, tetapi jika dilakukan dengan high cost  dan tidak tepat sasaran akan menjadi bumerang yang dapat membuat bisnis terjungkal. Product strategy yang keliru pun akan memakan korban sebagaimana yang terjadi pada bisnis Sevel. Sebaiknya Sevel fokus dalam market fast moving consumer goods saja, tanpa ribet jualan aneka minuman dan makanan layaknya kafe. Strategi pilihan lokasi yang premium seperti di perumahan elit atau sekitar perkantoran dapat menjadi fokus bisnis yang harus dipertahankan. Tutup gerai-gerai yang tidak menguntungkan.

Pada suatu titik, sebuah bisnis harus rela untuk ‘membunuh’ produknya sendiri, sebelum dilibas dengan kejam oleh kompetitornya. Product life cycle menjadi pendek. Sebelum siklus penurunan sebuah produk atau layanan terjadi, sebuah bisnis harus sudah mempersiapkan diri dengan produk baru yang lebih relevan dengan perkembangan zaman. Tawarkan inovasi produk atau layanan yang dapat meraih segmen pasar yang lebih luas, sehingga secara cost akan menjadi lebih murah. Inilah hikmah kejatuhan bisnis Sevel di Indonesia

Apakah Sevel akan kembali bangkit dan menciptakan sejarah baru di Indonesia? Mari kita tunggu saja jawabannya.

 

#disarikan dari berbagai sumber

Mau tahu sneakers termahal di dunia ? –> Baca disini

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: