Persekusi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia

Pemburuan sewenang-wenang terhadap seseorang atau sejumlah warga dan disakiti, dipersusah, atau ditumpas merupakan arti kata persekusi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Akhir-akhir ini ramai diperbincangkan persekusi yang dilakukan oleh sejumlah pihak yang diawali dengan penelusuran di media sosial. Media sosial dijadikan alat bagi sekelompok orang untuk memobilisasi massa dalam upaya mengintimidasi sesorang atau kelompok yang dianggap telah melakukan penghinaan, penistaan ataupun hal lain yang dianggap merendahkan suatu pihak. Dalam hal ini, target bisa diburu dari rumahnya atau tempat kerjanya demi melancarkan ancaman atau bahkan perlakuan kasar .

Jika kita masih ingat di akhir tahun 90an lalu, marak berita dukun santet yang dihakimi bahkan dibunuh massa. Padahal yang dituduh dukun santet itupun tidak sepenuhnya terbukti sebagai dukun santet. Tidak penting apakah dia dukun santet atau betulan, yang penting ada persepsi publik yang ditanamkan bahwa telah terjadi anggapan itu dan dianggap benar.

Persekusi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia

Mediasi korban Persekusi – Source BBC Indonesia

Tahapan Persekusi biasanya begini nih..
1. Tracking orang-orang yang menghina …bisa suku, agama, ras, dll
2. Menginstruksikan massa untuk memburu target yang sudah dibuka identitas, foto, alamat kantor/rumah
3. Aksi gruduk ke rumah atau kantor oleh massa
4. Dibawa ke polisi dikenakan pasal 28 ayat 2 UU ITE atau pasal 156a KUHP

Tentunya, persekusi sangat meresahkan. Sejumlah organisasi juga menyatakan sikap mengecam atas tindakan tersebut. Pemerintah dituntut mengusut tuntas dan mengungkap siapa dalang dari pelaku persekusi di era media sosial ini.

Nah, selain bisa melaporkan ke kepolisian untuk mencegah ancaman persekusi ini, saat ini gabungan dari sejumlah organisasi seperti Koalisi anti Persekusi, SAFEnet, dll mengimbau bagi siapa saja yang merasa menjadi korban persekusi, dapat segera melapor ke nomor 0812-8693-8692 bisa dengan telepon atau SMS. Ada juga layanan via email ke antipersekusi@gmail.com

Intinya..jangan main hakim sendiri alias persekusi ya….dan mari sama-sama jaga prilaku kita dalam berinteraksi ataupun mengekspresikan sikap terutama di media sosial, jauhi fitnah atau asal menyebarkan/share berita-berita yang tidak kita ketahui kebenarannya.

Baca juga  –> Fiera Lovita

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: