Viral Isi Surat Cinta Kepsek di Bantul

Heboh dan viral isi surat cinta Kepsek di Bantul baru-baru ini di media sosial. Seorang Kepala Sekolah SD Mutiara Persada di Bantul Yogyakarta menulis “surat cinta” yang menyentuh untuk orang tua murid setelah baru selesai melakukan ujian akhir sekolah. Dalam surat yang ditulis Bapak Suwarsana MPd itu, ia memberikan motivasi kepada orang tua yang mungkin anaknya tidak mendapatkan nilai yang bagus dalam ujian. Orang tua murid diminta untuk selalu mendukung anaknya, berapapun nilai yang diperolehnya nanti.

“Orang tua mungkin juga ingat bahwa dirinya tidak cemerlang dalam akademis tapi tetap bisa berdikari. Dengan harapan yang lebih wajar terhadap anak, diharapkan mereka tidak menuntut anaknya secara berlebihan,” lanjutnya. Meskipun demikian, ia menambahkan bahwa surat ini ditujukan kepada orang tua, karena jika ditujukan kepada anak dapat membuat anak tidak terpacu untuk terus belajar.

Ia mencontohkan, jika seorang anak tidak mendapatkan nilai yang bagus dalam pelajaran matematika, bukan berarti membiarkan anak tersebut tidak dimotivasi. Selalu melihat sisi positif, bisa dari menghargai usaha belajar yang mungkin sudah dilakukannya, atau dalam proses ujian sang anak yang tidak mencontek, tunjukkan penghargaan orang tua kepada anak yang mana dengan nilai kejujuran tsb, ketika bekerja di bidang yang lain dapat memberikan kesuksesan pula.

Masih banyak orang tua yang beranggapan keberhasilan akademik anak diukur dengan nilai angka dan ranking bukan pada proses belajar, sehingga anak dipaksa untuk belajar keras. Pada usia dewasa nanti menjadi sumber daya manusia yang tidak bisa bekerja, atau tidak terampil. Anak tidak menghargai pekerjaan yang memerlukan keterampilan, kerajinan, ketekunan, kerja keras dan cerdas, percaya diri dengan kemampuan sendiri. Selain itu karena tujuannya mencetak anak pandai di bidang akademik kognitif, maka materi pelajaran yang berkaitan dengan otak kiri saja yang diperhatikan yaitu bahasa dan logis matematik. Padahal banyak materi pelajaran yang berkaitan dengan otak kanan (kesenian, musik, lukis) kurang mendapat perhatian. Kalaupun ada perhatian, maka orientasinya juga lebih pada kognitif berupa hafalan, tidak ada apresiasi dan penghayatan yang dapat menumbuhkan semangat untuk belajar.

Thomas Licona (Depkominfo, 2006) mengungkapkan bahwa anak menjadi agen perubahan bagi pembentukan kehidupan masa depan, bahkan masa depan sebuah bangsa. Seorang anak adalah satu-satunya bahan dasar dapat membentuk seorang dewasa yang bertanggung jawab. Oleh karena itu orang tua dan juga guru hendaknya selalu mencegah anak-anak dari akhlak yang buruk sejak dini, sebagai bekal meletakkan dasar yang kuat bagi kehidupan di masa datang.

Nah, mudah-mudahan kita sebagai orang tua juga menyadari bahwa untuk mencapai kesuksesan, cara setiap orang bisa berbeda-beda. Setiap anak mempunyai bakat dan minatnya masing-masing. Tugas kita sebagai orang tua untuk selalu mendampingi dan memotivasi anak untuk selalu percaya akan kemampuan dirinya, dan menjadikan akhlak yang baik sebagai dasar utama untuk mencapai kesuksesan di masa depannya. Seperti kata pak Kepsek, “orang bahagia di dunia bukan hanya Dokter atau Insinyur saja lho…”

Heboh tentang Mummy…Baca disini

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: